Penjualan mobil anjlok. Lalu kenapa?
Liga335 daftar – Seorang pengunjung berdiri di samping modul kendaraan listrik pada 18 Juli 2024, saat Gaikindo Indonesia International Auto Show 2024 di Tangerang, Banten. (AFP/Bay Ismoyo) Penjualan mobil di Indonesia belakangan ini terus merosot, namun mungkin hal itu tidak sepenuhnya merupakan kabar buruk. Data yang dipaparkan oleh Asosiasi Industri Otomotif Indonesia (Gaikindo) awal pekan ini menunjukkan bahwa penjualan mobil baru dari pabrik ke dealer pada 2024 turun 14 persen dibandingkan 2023, dan 2023 sendiri sudah menandai penurunan dari 2022.
Selama dua tahun terakhir, jumlah kendaraan yang terjual turun dari sekitar 1,05 juta menjadi 865.723 unit. Data tersebut menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia mulai kehilangan minat terhadap kepemilikan mobil atau sekadar semakin sedikit orang yang mampu membeli mobil baru.
Produsen, yang selalu berupaya memperoleh atau mempertahankan insentif pemerintah, menyalahkan melemahnya daya beli konsumen atas penurunan tersebut. Mereka juga menurunkan target penjualan tahun ini dengan meninggalkan target penjualan 1 juta unit yang biasa mereka tetapkan, dan menggantinya dengan target yang lebih moderat, yaitu 900.000 unit.
edisi. Viewpoint Setiap Kamis Baik Anda ingin memperluas wawasan atau tetap mengikuti perkembangan terkini, “Viewpoint” adalah sumber yang tepat bagi siapa pun yang ingin terlibat dalam isu-isu yang paling penting. Lihat Lebih Banyak Buletin Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi .
Daftar Terima kasih telah mendaftar buletin kami! Silakan periksa email Anda untuk langganan buletin. Lihat Lebih Banyak Buletin Tidak bisa disalahkan jika produsen dan distributor mendesak langkah-langkah stimulus baru untuk menopang permintaan mobil, meskipun pemerintah telah meluncurkan sejumlah kebijakan untuk mengurangi pajak dan biaya.
Namun, keterjangkauan mungkin hanya salah satu dari beberapa alasan melemahnya penjualan mobil. Calon pembeli mungkin hanya menunda pembelian mobil baru saat ini karena mereka ragu apakah akan memilih mesin konvensional atau mobil bertenaga baterai atau hibrida. Bahkan beberapa orang yang telah memutuskan untuk membeli kendaraan listrik mungkin menunggu model baru diluncurkan ketersediaan mobil listrik di dalam negeri atau pendirian lebih banyak stasiun pengisian umum.
Data Gaikindo tidak mengungkap pertimbangan semacam itu, namun data tersebut menunjukkan bahwa mobil listrik dan mobil hibrida laris manis, karena penjualan jenis kendaraan ini meningkat lebih dari dua kali lipat tahun lalu dan kini menyumbang 12 persen dari total pasar mobil. Tidak ada tanda-tanda melemahnya daya beli konsumen di sini. Tentu saja, industri otomotif merupakan bagian penting dari perekonomian Indonesia, yang menyumbang 4,5 persen dari produk domestik bruto, menurut Kementerian Perindustrian.
Produsen mobil dan industri terkait juga menghasilkan pendapatan ekspor dan menyediakan lapangan kerja di sektor manufaktur yang krusial, sehingga membuat perekonomian kita kurang bergantung pada komoditas dengan harga global yang fluktuatif. Meskipun demikian, penurunan penjualan di dalam negeri tidak mencerminkan pengiriman ke negara lain. Yang lebih penting, data Gaikindo tidak menunjukkan adanya masalah di segmen kendaraan listrik (EV), yang menjadi inti dari sektor hilir Indonesia.
Agenda pembangunan ini sejalan dengan upaya pemerintah untuk mengembangkan industri otomotif di sekitar produksi baterai, mulai dari penambangan nikel hingga daur ulang bahan baku. Selama segmen pasar yang krusial ini terus mengalami pertumbuhan permintaan yang kuat, Indonesia dapat terus memanfaatkan pasar konsumennya yang besar sebagai daya tarik bagi investasi. Dengan rencana pembangunan pabrik baru untuk memproduksi mobil listrik yang lebih terjangkau di dalam negeri, tren tersebut tampaknya berkelanjutan meskipun masalah keterjangkauan saat ini menjadi perhatian.
Oleh karena itu, tidak perlu terlalu khawatir atas penurunan penjualan mobil. Ini mungkin justru saat yang tepat untuk memikirkan cara meningkatkan transportasi umum agar kepemilikan mobil pribadi menjadi pilihan yang diinginkan, bukan kebutuhan, setidaknya di pusat-pusat perkotaan negara ini. Di Jakarta, upaya untuk mengintegrasikan berbagai moda transportasi umum belum banyak berkembang melampaui sistem pembayaran terpadu.
Antrean panjang untuk bus yang penuh sesak dan perjalanan berbahaya di jalanan yang dipenuhi pengendara motor yang ugal-ugalan, atau di trotoar yang dipenuhi lubang, Terjebak kemacetan di antara kios-kios makanan, hanya untuk tiba di kantor dalam keadaan kotor, berkeringat, dan terlambat satu jam, tidak akan meyakinkan siapa pun untuk meninggalkan mobil kesayangan mereka. Transportasi umum memang belum cukup baik. Pemerintah pusat dan daerah harus melipatgandakan upaya mereka untuk menyediakan alternatif yang layak bagi transportasi pribadi.
Hal ini tidak hanya membutuhkan komitmen finansial, tetapi juga kesiapan untuk mengambil keputusan yang tidak populer, misalnya ketika masyarakat perlu direlokasi untuk memberi ruang bagi infrastruktur baru. Kendaraan listrik (EV) adalah masa depan, namun demikian pula kota-kota dengan transportasi umum yang lancar.