Memperkuat kerja sama lintas sektor untuk memerangi rabies melalui pendekatan One Health di Bali

Memperkuat kerja sama lintas sektor untuk memerangi rabies melalui pendekatan One Health di Bali

Memperkuat kerja sama lintas sektor untuk memerangi rabies melalui pendekatan One Health di Bali

Liga335 – Rabies adalah penyakit virus yang menyerang sistem saraf pusat dan hampir 100% berakibat fatal begitu gejala klinis muncul. Untuk mengatasi tantangan ini secara global, , Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO), Organisasi Kesehatan Hewan Dunia (WOAH), dan Aliansi Global untuk Pengendalian Rabies (GARC) telah menyusun rencana strategis global untuk mengakhiri kematian manusia akibat rabies yang ditularkan oleh anjing pada tahun 2030, yang dikenal sebagai “Zero by 30”.
Sambutan pembuka pada lokakarya jembatan tingkat provinsi tentang rabies di Bali, 12-15 April 2023 (Kredit: WHO/Endang Wulandari)
Sebagai penyakit endemik di 26 dari 38 provinsi di Indonesia, termasuk Bali, rabies menghadirkan tantangan yang sangat berat.

Sebagai tanggapan, Bali telah mendirikan 103 pusat rabies, menimbun vaksin antirabies (VAR) dan serum (SAR), memberdayakan masyarakat, dan pada tahun 2022, menyelenggarakan lokakarya Pendekatan Bertahap untuk Eliminasi Rabies (SARE). Terlepas dari upaya-upaya ini, masih ada kesenjangan, mulai dari penegakan Peraturan Pemerintah Provinsi No. 15 Tahun 2009, hingga peningkatan kampanye vaksinasi anjing dan penguatan kerja sama lintas sektor dalam pengendalian rabies.

“Untuk memerangi rabies pada manusia di Bali secara efektif, kita harus berfokus pada perkiraan populasi anjing yang akurat, penyediaan vaksin rabies untuk anjing, pendanaan untuk kegiatan operasional, penyediaan persediaan VAR dan SAR untuk manusia, pengendalian populasi anjing dengan mengurangi jumlah anjing liar dan menyediakan tempat penampungan, serta pendirian Pusat Rabies dan komunikasi risiko,” kata Dr. Imran Pambudi, MPHM, Direktur Pengendalian Penyakit Menular, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, dalam sambutan pembukaannya. Presentasi kelompok pleno pada sesi tersebut mengidentifikasi kegiatan kolaboratif dari penilaian kegiatan yang tertunda SARE (Kredit: WHO/Endang Wulandari) Lokakarya penghubung tingkat provinsi di Bali melibatkan 50 peserta dari berbagai sektor, bersama dengan Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Kementerian Pertanian (Kementan), Badan Nasional Penanggulangan Bencana, dan Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan.

Lokakarya ini bertujuan untuk membawa am Di antara hal-hal lain, sektor kesehatan manusia dan hewan bersatu dalam upaya memerangi rabies. Dalam lokakarya tersebut, para peserta mengevaluasi situasi, mengidentifikasi kelemahan dan praktik terbaik, serta merumuskan rencana untuk memperkuat kolaborasi. Strategi bersama ini memprioritaskan koordinasi, komunikasi, pembagian sumber daya, penerapan peraturan daerah, dan pengawasan.

Rencana kerja bersama untuk pencegahan dan pengendalian rabies menetapkan beberapa langkah prioritas: membentuk tim koordinasi, mengamankan dana darurat untuk pengendalian rabies, memperkuat komunikasi risiko melalui media sosial dan podcast, merancang materi komunikasi risiko yang efektif, melaksanakan ‘Pelatihan bagi Pelatih’ untuk komunikasi risiko yang lebih baik, mempercepat vaksinasi hewan yang digigit oleh hewan yang terinfeksi rabies, mengintegrasikan kebijaksanaan regulasi lokal, serta meningkatkan pengawasan dan pengelolaan kasus pada hewan yang terinfeksi rabies. Pengembangan kegiatan kolaboratif prioritas selama lokakarya jembatan provinsi tentang rabies, 12-15 April 2023, B ali (Sumber: WHO/Endang Wulandari)
I Wayan Pujana, SKM, MPH, dari Dinas Kesehatan Provinsi Bali menekankan, “Dalam lokakarya ini, kami memanfaatkan dokumen dan hasil dari lokakarya rabies sebelumnya untuk memperkuat upaya kami saat ini. Hasilnya akan memperkuat upaya bersama kami untuk memberantas kasus rabies pada manusia yang ditularkan oleh anjing pada tahun 2030.”

Para pemangku kepentingan siap melaksanakan rencana kerja yang telah disepakati untuk kegiatan kolaboratif prioritas dalam pengendalian rabies, menyusul lokakarya penghubung tingkat provinsi tentang rabies di Bali. Selain itu, partisipasi dan keterlibatan masyarakat dalam pengendalian rabies tetap krusial dalam mengatasi masalah ini. Pemerintah Australia, bekerja sama dengan WHO, mendukung upaya ini dengan membantu Kementerian Kesehatan dalam pengadaan vaksin rabies dan serum untuk manusia di provinsi-provinsi berisiko tinggi seperti Bali.

Mereka juga mengadvokasi penerapan profilaksis pasca-paparan rabies secara intradermal, sebuah metode yang dipromosikan oleh WHO.
Kegiatan WHO terkait rabies didukung oleh DFAT, Friedrich-Loeffler-Institut (FLI), GARC, SEEG, dan USAID.
Ditulis oleh Dr.

Endang Widuri Wulandari, Pejabat Profesional Nasional Bidang Epidemiologi.