India akan mengganti hewan laboratorium dengan teknologi human-on-chip. Berikut alasannya.
Liga335 daftar – Sektor farmasi India berada di titik balik historis saat bergerak menuju menjadi kekuatan global senilai 500 miliar dolar (sekitar Rs 42 lakh crore) pada tahun 2047, sebagai bagian dari visi Viksit Bharat negara tersebut.
Sebuah laporan penting berjudul “Analisis Landscaping tentang Alternatif Uji Coba Hewan dalam Pengembangan Obat di India” mengungkap peta jalan ambisius untuk menggantikan model hewan tradisional dengan teknologi mutakhir yang relevan dengan manusia. Transisi ini bukan hanya langkah etis, tetapi juga kebutuhan strategis untuk memperkuat daya saing nasional, meningkatkan hasil pengobatan pasien, dan membangun kepercayaan publik terhadap sains modern.
KENAPA INDIA MENINGGALKAN UJI COBA HEWAN? Selama puluhan tahun, hewan telah menjadi landasan keamanan obat, namun perbedaan spesifik spesies dalam fisiologi dan genetika seringkali gagal meniru biologi manusia dengan akurat. Saat ini, tingkat kegagalan klinis sangat tinggi, dengan hanya sekitar 10 persen calon obat yang masuk ke uji klinis Fase I akhirnya mendapatkan persetujuan regulasi.
Hal ini menyebabkan. Biaya yang lebih tinggi, waktu yang lebih lama, dan hilangnya terapi yang berpotensi bermanfaat. Dengan kata lain, atrisi klinis merujuk pada jumlah besar obat baru yang gagal selama proses pengujian.
Ketika ilmuwan mengatakan tingkat ini sangat tinggi dan hanya sekitar 10 persen, artinya dari setiap 10 obat yang mulai diuji pada manusia dalam uji klinis Fase I, sembilan di antaranya tidak akan pernah sampai ke rak apotek. Manusia buatan 3D yang digunakan untuk menguji efektivitas obat pernapasan baru. (Foto: Generative AI/) Perawatan potensial ini biasanya gagal karena tidak bekerja seperti yang diharapkan atau ditemukan tidak aman untuk manusia.
Karena tubuh hewan berbeda dengan tubuh manusia, uji coba pada hewan kadang-kadang memberikan hasil yang menyesatkan.
Hal ini menyebabkan peneliti menghabiskan bertahun-tahun kerja pada obat yang pada akhirnya gagal saat mencapai uji klinis pada manusia, sehingga pengembangan obat baru menjadi sangat mahal dan lambat. Metode non-hewan (NAMs), seperti organ-on-chip platform, Model jaringan manusia 3D dan simulasi yang didorong oleh kecerdasan buatan (AI) menawarkan alternatif yang lebih akurat dan etis.
Metode ini dapat mengurangi kegagalan klinis dan mempercepat penyediaan pengobatan yang aman bagi pasien. BAGAIMANA TEKNOLOGI BARU INI AKAN BERKEDJA?
Laporan ini mengidentifikasi 137 platform yang tersedia untuk pengujian di berbagai sistem organ.
Ini termasuk “digital twins” yang didukung oleh AI dan sistem mikro-fisiologis yang mensimulasikan organ manusia seperti hati atau jantung. India sudah menjadi rumah bagi puluhan institusi yang bekerja pada organoid otak, tumor, dan paru-paru. Dengan beralih ke metode ini, industri dapat menghilangkan uji coba yang berulang dan tidak memberikan nilai ilmiah yang signifikan, terutama di sektor-sektor di mana studi hewan sering kali mengulang data manusia yang sudah ada.
Pasar saat ini, yang bernilai sekitar 50 miliar dolar (Rs 4,2 lakh crore), diperkirakan akan mencapai 130 miliar dolar (Rs 10,9 lakh crore) dalam dekade mendatang. APA RENCANA KE DEPAN? Strategi ini melibatkan pembentukan badan pusat NAMs untuk Validasi dan standarisasi koordinasi, memastikan metode-metode ini memenuhi standar regulasi yang ketat.
Rekomendasi meliputi pembentukan Pusat Keunggulan dan penguatan pembangunan kapasitas melalui pelatihan tenaga kerja khusus bagi ilmuwan dan regulator. Dengan amandemen tahun 2023 terhadap Peraturan Obat Baru dan Uji Klinis India, pintu regulasi kini terbuka untuk alternatif-alternatif berbasis sains ini. Transisi ini memastikan India memimpin inovasi regulasi generasi berikutnya sambil menyediakan terapi yang lebih aman dan efektif bagi pasien di seluruh dunia.