6 Prasyarat Agar Indonesia Bisa Mencapai Pertumbuhan Ekonomi 6%, Kata Analis
Liga335 – TEMPO.CO, Jakarta – Mencapai pertumbuhan ekonomi sebesar 6 persen pada tahun 2026 mungkin bukan hal yang mustahil bagi Indonesia, menurut pengamat ekonomi.
Ajib Hamdani, pakar kebijakan ekonomi dari Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), percaya bahwa meskipun target resmi pemerintah dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2026 adalah 5,4 persen, namun mencapai 6 persen adalah hal yang memungkinkan jika prioritas utama dapat diatasi.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa juga memiliki optimisme yang sama terhadap pertumbuhan sebesar 6%, dengan mengutip perbaikan kebijakan fiskal dan moneter sebagai dasar yang kuat untuk tahun mendatang.
Berikut ini adalah rincian dari enam prasyarat strategis Ajib untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi di tahun 2026.
1. Penciptaan Lapangan Kerja Berkualitas Tinggi
Ajib menekankan bahwa penciptaan lapangan kerja harus melampaui kuantitas dan fokus pada kualitas. “Tantangan ekonomi Indonesia yang mendasar adalah pengangguran dan sektor informal,” katanya.
Investasi harus menyasar sektor-sektor yang menyerap tenaga kerja formal.
Pemerintah harus menghindari modus investasi turnkey atau investasi siap pakai. untuk posisi-posisi di tingkat yang lebih rendah. Kebijakan harus menegakkan rasio partisipasi angkatan kerja lokal yang jelas dan konsisten.
Idenya sederhana: lebih banyak pekerjaan berkualitas berarti pendapatan yang lebih tinggi, permintaan domestik yang lebih kuat, dan ekonomi yang lebih tangguh.
2. Kebijakan Fiskal dan Moneter yang Seimbang
Tahun 2025 menandai transisi dalam pendekatan fiskal Indonesia, beralih dari stabilitas yang ketat ke kebijakan yang berorientasi pada pertumbuhan. Ajib mencatat bahwa meskipun gaya fiskal Presiden Prabowo Subianto sesuai dengan pergeseran ini, masih ada beberapa tantangan yang harus dihadapi.
Ruang fiskal yang terbatas, kekurangan penerimaan pajak, dan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang tidak efisien adalah isu-isu yang perlu diperhatikan.
Kebijakan moneter juga harus menjaga inflasi tetap terkendali, sekitar 2,5% ± 1%.
“Prinsipnya jelas: kumpulkan lebih banyak, belanjakan dengan lebih baik,” kata Ajib, menggarisbawahi pentingnya sinkronisasi kebijakan.
3. Efisiensi Biaya di Seluruh Sektor Ekonomi
Mengurangi biaya bisnis adalah agenda penting lainnya. Ajib menyoroti perlunya menurunkan biaya kepatuhan, menyediakan opsi pembiayaan yang lebih kompetitif. ns, dan mengendalikan biaya energi, logistik, dan tenaga kerja.
Biaya yang efisien membuat bisnis Indonesia lebih kompetitif di dalam negeri dan internasional.
4. Memperkuat Sumber Daya Manusia
Produktivitas dan kualitas tenaga kerja merupakan hal yang penting bagi pertumbuhan yang berkelanjutan. Ajib menyarankan reformasi pendidikan kejuruan dan peningkatan keterampilan, integrasi antara pendidikan, industri, dan bisnis, serta penekanan pada literasi digital untuk beradaptasi dengan ekonomi berbasis teknologi.
“Kenaikan upah harus diimbangi dengan produktivitas dan daya saing yang lebih tinggi,” tegas Ajib.
5. Memberdayakan UMKM dalam Rantai Pasokan
Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) memainkan peran penting dalam perekonomian Indonesia. Ajib merekomendasikan untuk menghubungkan UMKM dengan BUMN dan sektor swasta, menawarkan insentif fiskal untuk memperkuat daya saing, dan meningkatkan akses ke pembiayaan dan pasar global.
Sektor UMKM yang kuat memastikan pertumbuhan yang lebih inklusif dan integrasi yang lebih dalam ke dalam rantai pasokan global.
6. Meletakkan Fondasi untuk Akselerasi Pertumbuhan
Accordi enurut Ajib, kelima prasyarat tersebut menjadi dasar untuk mencapai pertumbuhan 6 persen. “Dengan kondisi saat ini, 6 persen mungkin saja tercapai, namun 5 hingga 5,4 persen lebih realistis,” katanya.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa juga menyampaikan optimisme yang sama.
Meskipun terjadi perlambatan ekonomi dalam sembilan bulan pertama tahun 2025, ia menyebutkan bahwa peningkatan koordinasi kebijakan fiskal dan moneter sangat penting untuk tahun 2026.
Ia menambahkan bahwa ketidakselarasan antara penempatan Sisa Anggaran Lebih (SAL) dan proyeksi, yang sering terjadi di Bank Indonesia (BI), telah teratasi.
“Ke depan, dengan kebijakan yang sinkron antara pemerintah dan bank sentral, ekonomi kita akan tumbuh lebih baik dari sekarang,” kata Purbaya pada 31 Desember 2025.
Target pertumbuhan Indonesia pada tahun 2026 bergantung pada penciptaan lapangan kerja strategis, kebijakan fiskal dan moneter yang efisien, pengurangan biaya, pengembangan sumber daya manusia, dan pemberdayaan UMKM. Dengan langkah yang tepat, pertumbuhan 6 persen dapat berubah dari ambisi menjadi kenyataan.